Categories
Berita

Tetsu Kasuya

WAWANCARA EKSKLUSIF: JUARA WORLD BREWERS CUP 2016 DAN RESEP RAHASIANYA

Sumber: Otten Coffee
Penulis: YULIN MASDAKATY

Sang Juara yang ramah membagikan sekelumit kisah menariknya.

KOMPETISI kopi internasional tahun ini memang sangat menarik. Dua kejuaraan yang cukup prestisius di dunia sama-sama dimenangkan oleh orang Asia yang notabene jajaran kampiunnya selalu didominasi oleh orang-orang buleWorld Brewers Cup kali ini pun tak terkecuali. Secara khusus, daftar para finalisnya menarik perhatian saya. Selain karena ada nama-nama yang cukup akrab, komposisinya pun cukup unik: ada dua finalis dari Asia, satu finalis perempuan, dan Odd-Steiner Tollefsen yang merupakan Juara tahun lalu.

Awalnya, saya pikir yang akan kembali memenangkan kompetisi tahun ini adalah Odd-Steiner mengingat kansnya yang lebih besar. Ia sudah pernah menguasai panggung dan sudah berpengalaman berlaga di pentas Internasional. Nyatanya tahun ini Odd-Steiner justru menempati urutan keenam, peringkat terakhir di Top 6 World Brewers Cup. Sebaliknya, pemenangnya adalah Tetsu Kasuya yang berasal dari Jepang dan barangkali belum terlalu dikenal di kancah perkopian dunia—dibandingkan finalis lainnya.

Bagaimana Tetsu memberikan presentasi akhirnya di hadapan para juri adalah pertunjukan yang impresif. Kesimpulan ini ternyata diamini juga oleh publik kopi di luar. “Saya bukan seorang roaster atau petani kopi. Saya hanya seorang barista dan penyeduh. Tapi saya akan menyajikan kopi yang diseduh dengan seluruh kesungguhan saya (pada kalian),” katanya berkali-kali kepada juri yang kemudian manggut-manggut karena terkesan.

Ketika akhirnya saya menghubunginya untuk keperluan wawancara, Tetsu pun membalas dengan respon yang cukup gesit dan sangat bersahabat. Keramahannya membekas, tidak ada aroma arogansi yang seolah menguarkan bahwa ia Juara Dunia yang wajib diberi “applause panjang”. Ah, daripada berlama-lama, simak wawancara menarik dengan sang Juara berikut ini.

tetsu-3

 

Saat memberikan presentasi di babak final.

Hai, sebelumnya selamat, ya. Akhirnya kamu berhasil menjadi Juara World Brewers Cup 2016. Bagaimana rasanya? Masih terkejut?

Saya udah merasa sangat lega sekarang. Kemenangan ini memang masih mengejutkan saya (saking tidak percayanya) tapi saya sudah cukup terhanyut di dalamnya.

Sebenarnya, bisa dibilang, saya sudah mengikuti perjalananmu sejak memenangkan Japan Aeropress Championship dan kemudian Japan World Brewers Cup tahun lalu. Menarik, karena kamu memakai Aeropress di kedua kompetisi itu. Lalu kenapa memakai teknik pour over untuk World Brewers Cup kali ini? (Saya pikir kamu akan memakai Aeropress juga. :D)

Terima kasih untuk perhatiannya yang cukup panjang (tersenyum). Alasan kenapa saya memakai teknik V60 adalah karena hasilnya yang bagus. Kita bisa mendapat hasil yang clean cup, bright acidity, aftertaste yang panjang dan tentu saja, smooth motion. Pada kompetisi ini, hal-hal seperti itu adalah faktor penting untuk mendukung performa kita semakin indah.

Lalu, apa resep rahasia kemenanganmu di World Brewers Cup 2016? Bisa membaginya kepada kami?

Dengan senang hati saya ingin membagikan resep saya, tentu saja. Tujuan kompetisi ini, menurut saya, adalah membagikan metode dan rahasia kepada siapapun yang mencintai kopi.

Resep rahasianya: metode pour over V60 dengan memakai Hario dripper keramik.

Komposisi:

· 20 gram bubuk kopi, dengan level gilingan coarse.

· 300 ml air

· Suhu air 92ºC, dengan pH 6.6 dan ukuran TDS 1.3.

Cara seduh:

Resep pour over Tetsu di babak final kali ini disebutnya dengan istilah “the four, six brew method”, yaitu proses pouring yang dibagi menjadi dua bagian: 40 % dan 60%.

· Untuk proses pouring pertama yaitu 40%, air yang dituangkan adalah sebanyak 120 gram—namun dilakukan dalam 2 tahap.

00:45 Tuangkan 50 ml air dan biarkan blooming dalam 45 detik.

00:45 – 1:30 Tuangkan 70 ml pour

Proses pouring pertama yang 40% ini menentukan level acidity, balance, dan sweetness dari kopi.

· Untuk pouring kedua yaitu 60%, air yang dituangkan adalah sebanyak 180 grams dan dilakukan dalam 3 tahap. Sementara pouring kedua yang 60%, akan menentukan level kekuatan/strength dari kopi itu.

01:30 – 02:10 Tuangkan 60 ml air

02:10 – 02:45 Tuangkan 60 ml air

02:45 – 03:00 Tuangkan 60 ml pour

03:00 – 03:30 Angkat dripper

Sajikan pada cangkir keramik.

(Ia lalu menambahkan) Tolong, silakan bagikan resep saya, ya. 🙂

tetsu 2

 

Menitikkan air mata saking terharunya ketika dinobatkan sebagai Juara Dunia.

Ada jeda yang cukup panjang antara Japan Brewers Cup yang kamu ikuti dan World Brewers Cup. Apakah kamu memang sengaja mengatur waktu keikutsertaanmu di kompetisi seperti itu supaya punya banyak waktu untuk berlatih?

Ya, memang ada banyak sekali waktu untuk saya mempersiapkan diri sebelum melaju ke tingkat dunia. Jadi saya mengunjungi Ethiopia dan Colombia untuk mencari (dan meriset) kopi-kopi terbaik yang akan saya pakai untuk di kompetisi ini. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan biji dari Ninety Plus Coffee setelah melihat bagaimana kesungguhan mereka menghasilkan kopi berkualitas.

Apa persiapan yang kamu lakukan untuk World Brewers Cup 2016? Apa yang telah kamu lakukan?

Pertama-tama, kita harus menyesuaikan roasting profile-nya dulu. Karena ada perbedaan yang cukup kritikal antara roasting khas Jepang (Japanese roasting) dan di negara-negara lain. Dan saya mulai mencari tahu apa itu definisi “kopi enak” bagi penikmat kopi internasional.

Biji apa yang kamu gunakan untuk kompetisi itu? Apa sih karakter istimewa dari biji kopi itu?

Saya menggunakan biji kopi Geisha dengan natural process dari Ninety Plus Coffee. Kopi ini berasal dari Panama dan merupakan varietal Silvia. Karakter spesial dari biji kopi ini adalah tingkat sweetness-nya yang cukup tinggi dan super clean. Menurut saya ini adalah kopi terbaik di dunia.

Apa rencanamu setelah memenangkan World Brewers Cup? Apakah kamu berencana untuk mengembangkan karirmu di dunia kopi professional, membuka bisnis kopi specialty barangkali? 😀

Sebenarnya, saya belum memikirkan sampai sejauh itu. Saat ini saya hanya ingin membalas kebaikan yang sudah diberikan oleh Coffee Factory (coffee company tempatnya bekerja—red). Saya baru menjadi barista selama 3 tahun, tapi ajaibnya saya sudah bisa mencapai posisi sebagai Juara Dunia. Jadi saya ingin berterima kasih kepada Coffee Factory. Di masa depan, saya ingin menjadi seorang trainer atau konsultan. Saya ingin membagikan teknik dan attitude menurut pengalaman saya di kompetisi kepada orang lain.

Salam khususnya untuk Otten Coffee. :)

 

Salam khususnya untuk Otten Coffee. 🙂

Terakhir, saya pernah membaca di sebuah artikel bahwa kamu dulunya adalah seorang IT consultant. Apa yang membuatmu tiba-tiba banting setir menjadi barista? Bisa ceritakan perkenalan pertamamu dengan kopi?

Pemicu pertama kenapa saya meminum kopi, sebenarnya, adalah karena saya sakit Diabetes Tipe 1. Setelah didiagnosa kena penyakit itu, saya jadi nggak bisa minum Coca Cola lagi. Haha… Jadi saya memutuskan untuk meminum kopi saja. Kopi kan juga berwarna hitam, sama kayak Coca Cola. (tersenyum). Alasan utama sebenarnya cuma itu. Saya pikir, barangkali memang udah takdirnya saya sakit, ya.

Pemicu kedua adalah pengalaman pertama saya menyeduh kopi. Awalnya, saya nggak bisa menyeduh kopi dengan baik sama sekali. Saya bahkan bisa mengingat momen itu dengan jelas sampai sekarang. Tapi justru itulah yang memicu keingintahuan saya lebih lagi. Dan yang akhirnya membuat saya terhanyut dalam kecintaan terhadap kopi dan proses brewing.

Wow. Terima kasih, Tetsu. Semoga sukses untuk masa depanmu.

Sama-sama. Saya juga ingin main-main ke sana, suatu hari nanti. (tersenyum).

Foto-foto merupakan dokumentasi Tetsu Kasuya dan Coffee Factory.

Categories
Berita

Kopi Ninety Plus

KENAPA PARA JUARA SERING MENGGUNAKAN KOPI NINETY PLUS

Sumber: Majalah Otten Coffee
Penulis: YULIN MASDAKATY

 

Saking seringnya, kopi ini seolah garansi yang menyatakan bahwa “kalau ingin Juara, pakailah Ninety Plus.”

SEJAK Stefanos Domatiotis dari Yunani memenangkan World Brewers Cup tahun 2014 lalu (sekaligus menjadi “Juara Ninety Plus” pertama), bisa dikatakan, sejak itulah ia memulai tren ini. Waktu itu Stefanos menggunakan biji kopi Geisha dari Ninety Plus yang serta merta ikut mengenalkan tentang company ini pula kepada publik. Setelah kemenangan Stefanos, berturut-turut semakin banyak Juara kompetisi kopi dunia yang mengikuti jejaknya. Sebut saja misalnya Odd-Steinar Tøllefsen, Juara World Brewers Cup 2015 dari Norwegia yang menggunakan biji kopi Nekisse – Ethiopia.

Sekadar mengingatkan kembali, di kompetisi World Brewers Cup 2016 ada Tetsu Kasuya dari Jepang (Juara pertama) yang menggunakan Panama Silvia, Chad Wang (Juara ketiga) yang memakai Gesha dan Odd-Steinar Tøllefsen (posisi keenam) yang kembali lagi di kompetisi yang sama tahun ini.

Di kejuaraan World Barista Championship 2016 sendiri ada Yoshikazu Iwase dari Jepang (Juara kedua) dan Ben Put dari Kanada (Juara ketiga) yang juga menggunakan biji kopi Ninety Plus. Tidak ketinggalan menyebut Michalis Dimitrakopoulos (Juara World Coffee in Good Spirits 2016yang memakai Heirloom Tchembe natural dari company yang sama sebagai salah satu campuran kemenangannya.

Kesimpulannya, setidaknya dua dari Tiga Besar kejuaraan-kejuaraan dunia tahun ini semuanya menggunakan biji kopi Ninety Plus. Sungguh hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Lalu pertanyaan selanjutnya tentu saja: kenapa? Ada apa memangnya dengan biji kopi ini sampai sedemikian dahsyatnya mengantarkan para finalis pada kemenangan global mereka? Oke, mari kita coba ulik satu demi satu alasannya.

1. Karakter dan catatan rasa jawara

Menurut saya siapapun akan setuju jika kopi-kopi Ninety Plus disebut memiliki karakter dan rasa yang nikmatnya menakjubkan. Jika ada yang mengatakan rasanya sama saja berarti belum pernah mengecap kopi Ninety Plus, jujur saja. Lol. Kopi-kopi Ninety Plus umumnya memiliki karakter khas yaitu tingkat sweetness dan fruity yang lebih menonjol. Odd-Steinar menjelaskan bahwa kopi Nekisse yang dibawanya saat Kejuaraan Brewers Cup tahun lalu terasa sweet, fruity, clean dan elegant. Sementara Tetsu mengungkapkan bahwa kopi Panama Silvia-nya memiliki sweetness yang tinggi dan super clean di saat bersamaan.

2. Proses penanaman dan pengolahan kopi yang dilakukan dengan begitu detail

Ninety Plus memiliki dua wilayah khusus untuk menanam pohon-pohon kopi mereka yaitu di Ethiopia dan Panama. Di masing-masing negara ini, mereka mempunyai berbagai perkebunan kopi tersendiri pula dimana setiap pohon kopinya betul-betul dirawat dengan kesungguhan hati. Pohon-pohon kopi Ninety Plus umumnya ditanam dibawah tumbuhan pelindung (shade-grown coffee) yang kebanyakan berbatasan dengan hutan tropis atau hutan liar. Kondisi seperti ini biasanya memiliki rentang variabel yang sangat baik untuk pohon kopi seperti komposisi mineral alami tanah, kualitas kandungan air di bawah tanah, curah hujan, ketinggian wilayah, sinar matahari yang cukup (dan tidak langsung mengenai tanaman) dan sebagainya. Kondisi-kondisi seperti inilah yang dianggap sangat ideal bagi pertumbuhan pohon kopi, juga menghasilkan cherry kopi terbaik.

Setelah itu, proses pengolahan kopi dari Ninety Plus pun dilakukan dengan benar-benar memerhatikan standar kualitas. Pada masa panen, cherry kopi yang dipetik hanya yang benar-benar telah matang dan berwarna merah sempurna. Begitu juga dengan proses lanjutannya, entah proses natural sampai proses basah. Semuanya dilakukan dengan begitu spesifik.

Dengan segala rangkaian proses yang sangat detail dan terperinci ini, tidak heran jika kopi-kopi yang dihasilkannya pun mengeluarkan karakter jawara.

3. Dedikasi yang tinggi dari produsennya

Jika berbicara tentang industri kopi, maka kita pun tidak boleh menutup mata dan mengakui bahwa industri ini pada dasarnya tidak lepas dari faktor ekonomi dan segi untung-rugi. Namun Joseph Brodsky, pemilik company ini, sepertinya tidak mengejar itu sebagai tujuan utama perusahaannya. Pohon-pohon kopi yang mereka tanam sengaja ditumbuhkan di bawah pohon-pohon pelindung—yang umumnya ikut mereka tanam juga—sebagai bagian dari usaha mereka menjaga keseimbangan ekosistem dan alam.

Para petani lokal pun diperhatikan kesejahteraannya berikut proses fair trade yang turut mereka dukung. Di sebuah artikel, Joseph mengatakan bahwa sejak 11 tahun lalu, jauh sebelum kopi-kopi Ninety Plus kini dikenal sebagai “kopi para Juara” dan ketika ia masih mengerjakan bisnis roasting milik keluarganya Novo Coffee of Denver, ia sudah terlebih dulu jatuh hati kepada kopi-kopi Ethiopia. Yang kemudian membuatnya mengusahakan kopi-kopi ini dengan sepenuh hati. Tetsu, di artikel berbeda juga pernah mengatakan bahwa salah satu alasannya memilih kopi Ninety Plus—selain karena karakternya yang memang luar biasa, adalah karena ia telah melihat kesungguhan dan dedikasi Joseph yang tinggi terhadap kopi. Dan ia ingin menghargai itu.

Selamat minum kopi! 🙂

Categories
Berita

Indonesia Coffee Event 2020

INDONESIA COFFEE & PEOPLE FESTIVAL 2020: MERAYAKAN KOPI DAN SEMUA PELAKUNYA

Sumber: Majalah Otten Coffee
Penulis: YULIN MASDAKATY

Sebuah perhelatan kopi yang konon diadakan sebagai kritik tehadap asosiasi.

DIADAKAN tepat di tanggal dan jadwal yang sama dengan Indonesia Coffee Event 2020 adalah informasi yang membuat saya mengernyitkan dahi saat ditugaskan untuk membuat liputan juga ke Indonesia Coffee & People Festival (ICP). Sejumlah pertanyaan dan penasaran tentu saja mengikuti setelahnya sehingga itu adalah hal pertama yang langsung saya sodorkan pada Radiv Annaba, satu dari lima penggagas utama ICP, saat bertemu dengannya di hari pertama penyelenggaraan. Saat itu Radiv terlihat sibuk, ia berkali-kali berkelintaran mengelilingi aula Hallf Patiunus barangkali memastikan semuanya telah berjalan sesuai rencana. Lingkaran hitam di bawah matanya seolah menjelaskan bahwa ia telah kurang tidur selama berhari-hari untuk menyiapkan acara (yang cukup ambisius) ini.

“Ini nggak papa blak-blakan, kan?” tanya Radiv mewanti-wanti. “Nggak apa-apa, bebas!” jawab saya antusias karena sebelumnya saya telah mempersiapkan diri seandainya ia takut memberi jawaban terang-terangan dan lebih memilih berdiplomasi—seperti reaksi umum beberapa tokoh penting yang pernah saya wawancarai di masa lalu.

Salah satu forum yang membahas isu penting sustainability dan pengaruh global warming terhadap kopi.
Cupping adalah agenda setiap hari di ICP dan Evani adalah salah satu pengisinya.

Menurut Radiv, ia dan empat teman lainnya (Ego Prayogo, Bahrel Latief, Billy Bramandhika, dan Simon Petrus Bane) menggagas ICP dalam waktu yang bersamaan dengan ICE karena keresahan akan acara-acara kopi selama ini yang mereka anggap “begitu-begitu saja dan kurang bervariasi”. “Maksudnya, jarang banget (event) yang ngomongin langkah berikutnya di (industri) kopi itu apa sih, atau isu-isu yang dibahas tuh harusnya seperti apa,” jelas Radiv.

Sebagai gambaran singkat, ICP mengambil kiblat kepada The London Coffee Festival, sebuah perhelatan kopi tahunan Inggris yang merayakan skena kopi artisan di London beserta subkultur kreatifnya. Festival kopi London ini belakangan kian dianggap sebagai salah satu event kopi terpenting karena melibatkan sangat banyak artisan coffee dan sektor-sektor kreatif yang ada di sekitarnya, antara lain demonstrasi para barista kelas dunia, stan-stan street foodworkshop, coffee-based cocktails, pertunjukan musik, eksibisi seni, dan hal-hal artistik lainnya.

Zona khusus coffee farmer.
Zona coffee farmers (atas), zona coffee roastery (bawah).

Meskipun belum sama persis, tapi pergelaran ICP tampak mendekati mood The London Coffee Festival tersebut. Selain kopi yang menjadi jualan utama, mereka juga menghadirkan berbagai stan kreatif yang dikelompokkan ke dalam zona-zona tematik. Roastery, kedai kopi, petani kopi, komunitas seni, dan hobbyist berada di “village” masing-masing sehingga para pengunjung yang datang dapat lebih mudah menjelajahi dan mengeksplorasi.

Salah satu highlight signifikan dan layak diperhatikan pada ICP adalah adanya forum-forum yang membahas berbagai tema penting dan sebetulnya cukup krusial, antara lain isu sustainability dan pengaruh global warming terhadap pertanian kopi yang menjadi topik serius saat ini. “Harusnya asosiasi yang bikin acara kayak gini, yang—ibaratnya—mengikuti blueprint dan standar yang sudah dilaksanakan  di acara kopi internasional. Simpel aja, pegiat kopi semakin banyak setiap tahun. Pelanggannya juga semakin banyak setiap tahun. Harusnya asosiasi juga semakin kuat dalam hal mengorganisir, semakin bagus, dan terstruktur. Misalnya, blueprint (event-event asuhan) SCA global cukup jelas, edukasi. Meningkatkan skena kopi spesialti di negara-negara anggotanya. Dan harusnya asosiasi kopi, apapun itu, juga mengikuti blueprint demikian,” terang Radiv sekaligus mengklarifikasi mengapa ICP diadakan bersamaan dengan ICE.

“Cita-cita kita pengin menyelenggarakan acara world coffee event ke depannya. Indonesia ini kan berada di posisi yang unik sebenarnya, negara produsen (kopi) dan sekaligus emerging consumers. Jadi langkah paling dekat yang bisa kita tempuh adalah dengan menyelenggarakan di tanggal yang sama. Untuk menunjukkan bahwa semangatnya bukan tanding-tandingan, tapi untuk memberikan opsi,” ujar Radiv lagi.

Selain Gabriela Fernanda, Tika dari Otten Coffee adalah salah satu speaker di forum ICP yang bertajuk ‘Women & Coffee’.
Muhammad Aga mendemonstrasikan signature drink andalannya saat di IBC/WBC.
Booth Otten Coffee.

Untuk ukuran perhelatan perdana, ICP mencatatkan angka-angka yang terbilang bagus. Terdapat lebih dari 40 tenants partisipan yang terdiri dari roastery, kedai kopi, petani, komunitas, dan pelaku seni lainnya. Hajatan kompetisi throwdown, Otten Comandante Smackdown, dengan konsep bersenang-senang tapi serius yang diikuti oleh 80 peserta. (Konon kompetisi ini berhasil menarik 138 pendaftar dalam 10 menit pertama sehingga panitia harus menutup pendaftaran saat itu juga. “Langsung distop, dan langsung kita kontak semuanya, satu per satu. First pay first get. Jadi  nggak usah takut nggak dapat slot. Semua pasti dapet, cuma masalah siapa yang bayar duluan aja,” ujar Radiv). Dan hadiah uang tunai 20 juta Rupiah yang tampaknya menjadi penarik perhatian utama para “bounty hunters” di luar sana. (Dana segar cuma-cuma ini berhasil didapatkan oleh Nasrulloh, seorang home brewer yang memiliki pseudonim kopiaddiction di Instagram).

Comandante Smackdown yang mencuri perhatian.
Nasrulloh, “bounty hunter” yang berhasil mendapatkan uang 20 juta dibayar tunai.

Selama tiga hari penyelenggaraan, ICP telah dihadiri lebih dari 3500 pengunjung sehingga acara ini terlihat benar-benar menjanjikan untuk terus dilanjutkan di masa depan dan tergolong berhasil mewujudkan tujuannya sebagai “salah satu opsi”. (Radiv memberikan bocoran bahwa di akhir tahun nanti mereka berencana untuk membuat versi resmi dari kompetisi Comandante Smackdown dengan menggandeng Comandante sebagai pemangku utama kegiatan–seperti World Aeropress Championship).

“Harapannya kita mau (acara kopi) semakin inklusif, accessible, oleh siapapun. Siapapun bisa terlibat. Kita nggak mau ini dibilang benchmark, tapi bisa menjadi inspirasi untuk asosiasi. Karena misi kita adalah desentralisasi perkembangan industri kopi yang semakin merata lewat festival,” tutup Radiv.

Semoga harapan itu menjadi kenyataan. Sampai bertemu di event kopi berikutnya.

TUKANG NULIS YANG MENGGEMARI KOMIK, FILM-FILM PAHLAWAN SUPER, DAN JALAN-JALAN—SAMBIL MINUM KOPI.

YULIN MASDAKATY
Categories
Berita

DUNIA KOPI

Milenial yang Rakus Kopi

Milenial dan kopi? Ada cerita seru nih tentang dua fenomena tersebut.

Generasi “milenial” menjadi salah satu penyebab meningkatnya harga kopi di pasaran global. Jika kita lihat dari jumlah generasi milenial saat ini, plus konsumsi mereka akan secangkir kopi (yang alamak tinggi!)–tentu fenomena ini berpengaruh besar terhadap masa depan skena kopi. Kamana atuh skena!

Generasi milenial (iya, kamu :p) saat ini acapkali disebut-sebut sebagai sumber permasalahan dan perdebatan yang ada saat ini. Setelah fenomena coffee snobs tingkat RT hingga tenarnya Awkarin (eh), milenial lagi-lagi menjadi objek yang dikambinghitamkan akibat meningkatnya ancaman krisis kopi skala global.

Bloomberg dalam laporannya menyebutkan bahwa kebiasaan minum kopi milenial di Amerika Serikat mengakibatkan naiknya permintaan kopi di negara tersebut hingga ke rekor tertinggi. Toko-toko di Amerika Serikat diintai kondisi kelangkaan beras kopi. Hal ini diperparah oleh cuaca kering yang menimpa Brazil yang memperlambat panen robusta (yang biasa dipakai sebagai adonan dasar kopi instan). Alhasil, banyak toko yang kemudian beralih ke beras kopi arabika sebagai alternatif. Imbasnya, pada Oktober 2015 lalu, harga kopi arabika di New York melonjak ke titik tertinggi dalam 20 bulan terakhir.

Kondisi yang diceritakan barusan menunjukkan korelasi milenial dan kelangkaan kopi. Mengapa bisa begitu? Data dari National Coffee Association di Amrik sana menyebutkan bahwa milenial menyumbang sekitar 44 persen dari total konsumsi kopi. Wah!

Rinciannya: 48 persen dari penduduk yang berusia 18-24 tahun, dan 60 persen dari penduduk yang berusia 25-39 tahun, menikmati kopi setiap harinya. Tren ini sepertinya juga akan terus menanjak, mengingat terjadi pergeseran budaya minum kopi, mengingat milenial (di sini dipukul rata: mereka yang lahir setelah tahun 1995) mengembangkan kebiasaan minum kopi sedari umur 15 tahun! Sebagai perbandingan: rata-rata milenial yang lebih tua terbiasa meminum kopi pada umur 17 tahun. Gimana dengan pembaca milenial uzur? Pasti minum kopi dari sejak umur 20-an, setelah kerja, dapat pendapatan sendiri dulu kan? (sfx OST Full House).

“Tekanan” yang diakibatkan milenial terhadap industri kopi tak hanya terbatas untuk pencinta kopi di Amerika Serikat. Pasar kopi seperti Brazil dan Tiongkok juga terkena dampak dari ganasnya generasi ini melahap seduhan dan olahan kopi. Untungnya, ketersediaan stok dari kopi-kopi yang belum direndang bisa menjadi penyelamat korporasi-korporasi kopi–walau untuk sementara. Fenomena ini sepertinya berlangsung terus hingga saat ini, namun teredam dengan panen raya kopi di beberapa sentra produksi kopi di seluruh dunia. Well, hukum pasar berlaku toh: permintaan besar, harga cenderung naik, stok pasti dilepas. Di sisi ini, milenial berutang besar pada korporasi kopi–mulai dari tingkat global hingga tengkulak level kecamatan di El Salvador. Kebayang yes kalau milenial nggak bisa minum kopi? Bisa terjadi revolusi!

Sementara itu, mungkin milenial dapat mempertimbangkan mengurangi konsumsi kopi; atau menghemat konsumsi kopi; atau mencari sumber alternatif olahan kopi.

Eh, tapi tunggu, ini ‘kan cerita milenialnya Amerika. Milenial di Indonesia masih demam es kepal milo kan?

Artikel ini disadur dari sini.

Tulisan: http://kopikopikopi.com