Indonesia Coffee Event 2020

INDONESIA COFFEE & PEOPLE FESTIVAL 2020: MERAYAKAN KOPI DAN SEMUA PELAKUNYA

Sumber: Majalah Otten Coffee
Penulis: YULIN MASDAKATY

Sebuah perhelatan kopi yang konon diadakan sebagai kritik tehadap asosiasi.

DIADAKAN tepat di tanggal dan jadwal yang sama dengan Indonesia Coffee Event 2020 adalah informasi yang membuat saya mengernyitkan dahi saat ditugaskan untuk membuat liputan juga ke Indonesia Coffee & People Festival (ICP). Sejumlah pertanyaan dan penasaran tentu saja mengikuti setelahnya sehingga itu adalah hal pertama yang langsung saya sodorkan pada Radiv Annaba, satu dari lima penggagas utama ICP, saat bertemu dengannya di hari pertama penyelenggaraan. Saat itu Radiv terlihat sibuk, ia berkali-kali berkelintaran mengelilingi aula Hallf Patiunus barangkali memastikan semuanya telah berjalan sesuai rencana. Lingkaran hitam di bawah matanya seolah menjelaskan bahwa ia telah kurang tidur selama berhari-hari untuk menyiapkan acara (yang cukup ambisius) ini.

“Ini nggak papa blak-blakan, kan?” tanya Radiv mewanti-wanti. “Nggak apa-apa, bebas!” jawab saya antusias karena sebelumnya saya telah mempersiapkan diri seandainya ia takut memberi jawaban terang-terangan dan lebih memilih berdiplomasi—seperti reaksi umum beberapa tokoh penting yang pernah saya wawancarai di masa lalu.

Salah satu forum yang membahas isu penting sustainability dan pengaruh global warming terhadap kopi.
Cupping adalah agenda setiap hari di ICP dan Evani adalah salah satu pengisinya.

Menurut Radiv, ia dan empat teman lainnya (Ego Prayogo, Bahrel Latief, Billy Bramandhika, dan Simon Petrus Bane) menggagas ICP dalam waktu yang bersamaan dengan ICE karena keresahan akan acara-acara kopi selama ini yang mereka anggap “begitu-begitu saja dan kurang bervariasi”. “Maksudnya, jarang banget (event) yang ngomongin langkah berikutnya di (industri) kopi itu apa sih, atau isu-isu yang dibahas tuh harusnya seperti apa,” jelas Radiv.

Sebagai gambaran singkat, ICP mengambil kiblat kepada The London Coffee Festival, sebuah perhelatan kopi tahunan Inggris yang merayakan skena kopi artisan di London beserta subkultur kreatifnya. Festival kopi London ini belakangan kian dianggap sebagai salah satu event kopi terpenting karena melibatkan sangat banyak artisan coffee dan sektor-sektor kreatif yang ada di sekitarnya, antara lain demonstrasi para barista kelas dunia, stan-stan street foodworkshop, coffee-based cocktails, pertunjukan musik, eksibisi seni, dan hal-hal artistik lainnya.

Zona khusus coffee farmer.
Zona coffee farmers (atas), zona coffee roastery (bawah).

Meskipun belum sama persis, tapi pergelaran ICP tampak mendekati mood The London Coffee Festival tersebut. Selain kopi yang menjadi jualan utama, mereka juga menghadirkan berbagai stan kreatif yang dikelompokkan ke dalam zona-zona tematik. Roastery, kedai kopi, petani kopi, komunitas seni, dan hobbyist berada di “village” masing-masing sehingga para pengunjung yang datang dapat lebih mudah menjelajahi dan mengeksplorasi.

Salah satu highlight signifikan dan layak diperhatikan pada ICP adalah adanya forum-forum yang membahas berbagai tema penting dan sebetulnya cukup krusial, antara lain isu sustainability dan pengaruh global warming terhadap pertanian kopi yang menjadi topik serius saat ini. “Harusnya asosiasi yang bikin acara kayak gini, yang—ibaratnya—mengikuti blueprint dan standar yang sudah dilaksanakan  di acara kopi internasional. Simpel aja, pegiat kopi semakin banyak setiap tahun. Pelanggannya juga semakin banyak setiap tahun. Harusnya asosiasi juga semakin kuat dalam hal mengorganisir, semakin bagus, dan terstruktur. Misalnya, blueprint (event-event asuhan) SCA global cukup jelas, edukasi. Meningkatkan skena kopi spesialti di negara-negara anggotanya. Dan harusnya asosiasi kopi, apapun itu, juga mengikuti blueprint demikian,” terang Radiv sekaligus mengklarifikasi mengapa ICP diadakan bersamaan dengan ICE.

“Cita-cita kita pengin menyelenggarakan acara world coffee event ke depannya. Indonesia ini kan berada di posisi yang unik sebenarnya, negara produsen (kopi) dan sekaligus emerging consumers. Jadi langkah paling dekat yang bisa kita tempuh adalah dengan menyelenggarakan di tanggal yang sama. Untuk menunjukkan bahwa semangatnya bukan tanding-tandingan, tapi untuk memberikan opsi,” ujar Radiv lagi.

Selain Gabriela Fernanda, Tika dari Otten Coffee adalah salah satu speaker di forum ICP yang bertajuk ‘Women & Coffee’.
Muhammad Aga mendemonstrasikan signature drink andalannya saat di IBC/WBC.
Booth Otten Coffee.

Untuk ukuran perhelatan perdana, ICP mencatatkan angka-angka yang terbilang bagus. Terdapat lebih dari 40 tenants partisipan yang terdiri dari roastery, kedai kopi, petani, komunitas, dan pelaku seni lainnya. Hajatan kompetisi throwdown, Otten Comandante Smackdown, dengan konsep bersenang-senang tapi serius yang diikuti oleh 80 peserta. (Konon kompetisi ini berhasil menarik 138 pendaftar dalam 10 menit pertama sehingga panitia harus menutup pendaftaran saat itu juga. “Langsung distop, dan langsung kita kontak semuanya, satu per satu. First pay first get. Jadi  nggak usah takut nggak dapat slot. Semua pasti dapet, cuma masalah siapa yang bayar duluan aja,” ujar Radiv). Dan hadiah uang tunai 20 juta Rupiah yang tampaknya menjadi penarik perhatian utama para “bounty hunters” di luar sana. (Dana segar cuma-cuma ini berhasil didapatkan oleh Nasrulloh, seorang home brewer yang memiliki pseudonim kopiaddiction di Instagram).

Comandante Smackdown yang mencuri perhatian.
Nasrulloh, “bounty hunter” yang berhasil mendapatkan uang 20 juta dibayar tunai.

Selama tiga hari penyelenggaraan, ICP telah dihadiri lebih dari 3500 pengunjung sehingga acara ini terlihat benar-benar menjanjikan untuk terus dilanjutkan di masa depan dan tergolong berhasil mewujudkan tujuannya sebagai “salah satu opsi”. (Radiv memberikan bocoran bahwa di akhir tahun nanti mereka berencana untuk membuat versi resmi dari kompetisi Comandante Smackdown dengan menggandeng Comandante sebagai pemangku utama kegiatan–seperti World Aeropress Championship).

“Harapannya kita mau (acara kopi) semakin inklusif, accessible, oleh siapapun. Siapapun bisa terlibat. Kita nggak mau ini dibilang benchmark, tapi bisa menjadi inspirasi untuk asosiasi. Karena misi kita adalah desentralisasi perkembangan industri kopi yang semakin merata lewat festival,” tutup Radiv.

Semoga harapan itu menjadi kenyataan. Sampai bertemu di event kopi berikutnya.

TUKANG NULIS YANG MENGGEMARI KOMIK, FILM-FILM PAHLAWAN SUPER, DAN JALAN-JALAN—SAMBIL MINUM KOPI.

YULIN MASDAKATY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *